Jumat, 15 Februari 2013

Keadaan Alam Indonesia

Buana Katulistiwa - Sektor pariwisata merupakan menyumbang devisa penting bagi Indonesia. Sayangnya sampai saat ini obyek wisata Indonesia masih belum tergarap sepenuhnya, kecuali masih terbatas pada obyek-obyek umum seperti obyek sejarah dan arkeologi (gedung-gedung bersejarah, situs purbakala, museum), obyek alam (air terjun, ngarai, kebun raya, kebun binatang, pantai), tradisi dan budaya (kirab, syawalan, satu suro-tahun baru Jawa).


Padahal, potensi wisata alam Indonesia, misalnya, begitu besar di desa hingga kota. Tidak hanya vegetasi, pemadangan alam gunung, lembah sungai, danau, ngarai, air terjun dan gua yang banyak terdapat di pendalaman, tapi berupa pemandangan alam taman, kebun, sawah, kebun raya, kebun binatang, kampus, dan lain-lain. Potensi obyek alam ini tersebar mulai dari laut, pantai dan gunung. Keseragaman potensi wisata antara Indonesia dan negara-negara lain khususnya ASEAN membuat pariwisata Indonesia kurang populer di dunia internasional, selain akibat kurangnya promosi wisata di luar negeri. Walaupun tiap negara memiliki keunikan tersendiri, tetapi persaingan harga dan lemahnya pemasaran menyebabkan pariwisata Indonesia kurang laku di pasar internasional. Sekecil apapun kegiatan pariwisata, tetap saja ini merupakan ladang bisnis yang jika digarap secara proposional dapat memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Beruntung Indonesia memiliki Pulau Dewata-Bali yang populer sebagai salah satu tujuan pariwisata dunia. Tetapi toh pariwisata Bali rentan dengan masalah keamanan, terlebih semenjak terjadinya teror bom Bali tahun 2002. Trend pariwisata kedepan banyak yang berorientasi alam. Back to nature menjadi slogan yang populer dalam dunia pariwisata saat ini. Di Indonesia, motivasi kunjungan wisatawan mayoritas masih berorientasi pada wisata sumber daya alam. Seharusnya sumberdaya wisata alam di Indonesia tidak lagi dilihat dari sekedar pantai, gunung dan sungai. Tetapi mulai memunculkan citra Indonesia sebagai kepulauan tropis yang eksotis, jungle dan magic. Dengan citra itu, Indonesia bisa memiliki slogan dan tujuan wisata yang menarik wisman dan wisnu. Pariwisata seperti snorkeling (petualangan bawah laut), bird watching, pelepasan penyu, migrasi paus, mengawasi gunung berapi yang masih aktif dan banyak lagi potensi wisata dengan tema petualangan alam. Jangan lupa bahwa pariwisata alam memberikan dampak negatif, selain dampak positif. Manusia hanya memikirkan dampak positifnya saja, karena dampak positif lebih dirasakan manusia dalam bentuk devisa atau pemasukan, sedangkan dampak negatifnya dirasakan oleh lingkungan atau alam yang bersangkutan. Beberapa dampak negatif dari pariwisata adalah suara bising, polusi, sampah, api, perilaku satwa, suvenir, dan sanitasi. Suara yang dihasilkan oleh aktifitas manusia meredam atau bahkan menghilangan suara alam yang menyebabkan kualitas suara alam menurun. Mesin-mesin yang beroperasi seperti perahu boat dan generator menyebabkan polusi baik polusi asap maupun limbah cair bagi margasatwa sekitar. Banyaknya wisatawan yang datang menyebabkan sampah turut menggunung. Kemungkinan terjadinya kebakaran semakin besar. Contohnya semakin banyak orang-orang yang pergi camping, semakin besar kemungkinan adanya api unggun dan puntung korek api atau puntung rokok sebagai sumber api kebakaran. Perubahan perilaku satwa liar menjadi jinak jika terlalu sering bertemu dengan manusia, terlebih bila manusia memiliki kebiasaan memberi makan hewan liar. Banyaknya wisatawan mendorong masyarakat lokal memperdagangkan suvenir yang diambil dari alam. Kebutuhan manusia akan sanitasi mempengaruhi kadar asam air dan membuat polusi air tanah. Pariwisata alam tidak melulu berarti flora dan fauna. Bukankah manusia merupakan bagian dari alam? Keadaan sosial dan budaya masyarakat sangat menarik bagi wisatawan. Yang dimaksud dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat tentu saja yang alami, berhubungan dengan pengelolaan sumber daya alam berwawasan setempat. Tujuan wisata berhubungan dengan tempat tinggal seseorang. Orang kota senang berwisata ke desa, sedangkan orang desa berwisata ke kota. Semakin modern dan kaya seseorang, semakin tinggi keinginannya untuk berwisata unik dan menantang. Perkembangan jaman menyebabkan perjalanan everest menjadi suatu paket wisata bagi orang kaya. Melihat besarnya potensi wisata alam di Indonesia, dimasa mendatang bukan tidak mungkin wisata alam Indonesia menjadi tujuan utama wisman dan wisnu. Pendakian Gunung Jayawijaya, pesona Krakatau, petualangan gua-gua karst hanya sebagian kecil potensi alam yang kita punya. Hanya saja dalam pengelolaannya, diupayakan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan. Bukankah dampak negatif tersebut lama kelamaan akan merugikan kita juga. (gn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar